\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_title":"Sejak Dulu Kretek Penting bagi Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejak-dulu-kretek-penting-bagi-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:28:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:28:35","post_content_filtered":"\r\n

Sekilas barangkali kretek hanya barang konsumsi yang sepele. Namun jika kita mau mendedah sejarahnya yang panjang dan menelisik lebih jauh ke dalam bangunan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai daerah sentra perkebunan tembakau dan kota-kota pengrajin kretek, maka akan kita saksikan bagaimana budaya tembakau dan kretek telah terjalin erat membentuk sebuah budaya yang hidup. Tidak saja ia menjadi sebuah simbol dan identitas budaya. Melainkan, lebih dari itu, juga menginspirasi lahirnya berbagai ritus budaya dan praktik sosial sebagai efek turunannya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, jelas sekali bahwa budaya merokok kretek telah mengambil bagian penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Ungkapan Muhamad Sobary dalam esai \u201cBudaya dalam Selinting Rokok\u201d sangat tepat melukiskan makna entitas kretek, bahwa rokok bukanlah rokok. Bagi bangsa Indonesia, rokok Kretek adalah hasil sekaligus ekspresi corak budaya yang menyumbang pemasukan uang bagi Negara.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana telah beberapa kali disinggung tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kisah Perang Dagang Kretek di Amerika Serikat<\/a><\/p>\r\n

Industri Kretek di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing. Ketika kretek ditemukan pada 1880 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma.\u00a0 Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. Saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, orang tersebut bisa membelinya di apotek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam perjalanan sejarahnya, paska meninggalnya Haji Jamhari sebagai orang yang pertama kali menemukan rokok kretek, ada Nitisemito seorang pengembang rokok kretek menjadi produk komersial, dengan menggunakan sebuah merk. Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906. Kemudian, menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemto. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.\u00a0 Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek. Tambahan lagi, dengan tersedianya tenaga kerja yang memadahi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sang Raja Kretek di Era Kolonial<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nitisemito, Bal Tiga dan Rokok-rokok Asing<\/h3>\r\n

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda. Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun rokok kretek ini memang mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1860-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Bahkan di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. <\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya\u00a0 lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing.\u00a0<\/p>\r\n

Pasang Surut Industri Kretek<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Menanti Pemerintah Berterimakasih Pada Rokok Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek\u00a0 dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatar, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa\u00a0 kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia yang punya sejarah panjang, terlebih rokok kretek kali pertama ditemukan untuk mengobati penyakit yang terjual eceran di apotek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6257","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6251,"post_author":"877","post_date":"2019-12-02 08:13:02","post_date_gmt":"2019-12-02 01:13:02","post_content":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n

Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n

Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n

Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n

Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.

Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.

Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.

Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.

Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.

Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.

Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.

Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n


Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n


Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n


Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n


Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n


Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6236,"post_author":"877","post_date":"2019-11-18 09:00:57","post_date_gmt":"2019-11-18 02:00:57","post_content":"\n

Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus Selasa besuk, banyak desa terlihat ramai. Hampir tiap malam masyarakat bergerombol untuk sekadar ngobrol atau berjaga di titik titik tertentu. Ada yang di tempat calonnya, ada yang di posko, ada yang diwarung, bahkan ada yang hanya di pinggir jalan. Di situlah rokok berfungsi dengan baik, ia menjadi teman setia para sabet yang sedang menanti hari esok tiba.<\/p>\n\n\n\n

Tiap desa yang akan menyelenggarakan pilkades, terlihat ramai terlebih di desa yang terdapat 2 calon berbeda, tidak satu keluarga. Karena aturannya calon harus lebih dari satu, saat ini banyak pilkades yang calonnya anggota keluarga sendiri, seperti suami dan istrinya, kakak dan adiknya, atau om dan keponakannya. Pilkades calonnya satu keluarga bisa dipastikan tidak seramai dengan pilkades yang calonnya saling berhadap-hadapan (tidak sekeluarga). Mereka saling adu strategi untuk penggalangan massa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950<\/a><\/p>\n\n\n\n

Memang banyak anggapan posisi kepala desa (kades) sekarang tidak sesakral kades dahulu. Dulu yang menjadi kades orang yang benar-benar ditokohkan masyarakat. Selain sebagai pimpinan kebijakan pemerintah tingkat desa, juga para kades dahulu menjadi panutan dan tempat berlindung masyarakat. Kades dahulu lebih dekat dengan rakyatnya. Bahkan ada cerita, menjadi kades dulu turun temurun (keturunan dari keluarga Kades), berwibawa, paling tidak punya kekuatan magic yang bisa menolong masyarakat atau mengayomi masyarakat. Sehingga banyak orang tua cerita, kalau kades dahulu sangat dihormati dan ditakuti masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Berubahnya waktu dan berubahnya zaman, berubah pula posisi kades. Dahulu sakral, sekarang tidak lagi, dahulu benar-benar tokoh yang bisa menjadi kades, sekarang terbuka lebar kesempatan menjadi kades untuk siapapun, baik dari kalangan masyarakat biasa, para pemuda ataupun perempuan punya kesempatan yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Ada plus minusnya, sekarang kesempatan menjadi kades terbuka lebar bagi siapapun yang terpenting warga desa setempat. Namun gejolak gesekan dan konflik antar masyarakat sebagai pendukung dan tidak lebih tinggi dan rawan. Kades sekarang rata-rata sudah tidak lagi dipandang masyarakat sebagai panutan, fungsinya hanya tokoh yang mewakili pemerintah pada level bawah. Beda dengan kades zaman dulu, yang seakan-akan hanya keluarga keturunan kades yang bisa menjadi kades, masyarakat lainnya tidak ada kesempatan menjadi kades. Bahkan kades zaman dulu tidak ada perempuan, yang ada laki-laki punya wibawa keturunan tokoh tertentu yang sangat disegani dan dihormati masyarakat. Kades dahulu memang betul-betul sebagai tokoh panutan dan tokoh yang mengayomi masyarakat di luar urusan pemerintahan. Jadi benar-benar dekat dengan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Fungsi kades dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat tidak hanya melulu urusan tarikan pajak atau hanya sambutan acara. Lebih dari itu, dahulu kades sering muter kemasyarakat melihat kondisi rakyatnya, jika kekurangan atau ada masalah dibantu, sering didatangi masyarakat diminta berdo\u2019a agar sembuh dari penyakit, agar lancar pekerjaannya, bahkan juga dimintai petuah-petuah untuk jalan hidup yang baik dan semestinya. Fungsi sosial kades seperti dulu, saat ini seakan-akan hilang, pemerintah desa atau kades hadir ditengah-tengah masyarakat hanya saat tarikan pajak. undangan nikahan, undangan sambutan dan minta tanda tangan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali kepemilihan kepala desa (pilkades), calon lebih dari satu dan tidak satu keluarga, pastinya ramai. Para calon kades sebisa mungkin mencari dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Anjang sana anjang sini pasti dilakukakan untuk memaparkan visi-misinya jika menjadi kepala desa yang terpilih. Tidak berhenti disitu, calon kepala desa harus sigap dan tanggap kebutuhan masyarakat. Bahkan rokokpun sebagai modal para calon untuk mencuri hati rakyat dan mencari dukungan. Tidak jarang saat jalan-jalan para calon kades disakunya banyak rokok sebagai modal ngobrol dengan masyarakat, terutama dengan bapak-bapak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun hanya berupa rokok, ternyata posisinya sangat penting, minimal sebagai pembuka obrolan.  Seperti pengakuan Noor Cholis salah satu orang kepercayaan calon kades di desa Gribig Kecamatan Gebog Kudus, ia dan calonnya kalau jalan-jalan atau ngobrol dengan masyarakat yang paling praktis dan mengena pakai rokok, modal sedikit tapi mendapkan simpati, dari pada ngasih uang untuk membeli sesuatu seperti makanan atau minuman lebih boros tidak cukup 50 ribu, mendingan bawa rokok senior atau sukun putih, kalau mau berkelas bawa djarum super. Kalau pas ngobrol rokok dikeluarkan 1 bungkus dibuka dan ditawarkan kemasyarakat. Dengan bekal rokok mau mengawali obrolan tidak canggung. <\/p>\n\n\n\n

\u201cnek mlaku mlaku muter jagong neng kampung mesti gowo rokok ra ketang senior po sukun putih, kadang djarum super ben ketok elit, aku yo ngono sabar (calon kades) yo ngono. Mending rokok irit dibanding modal duit diwehno go tuku jajan po ngombi, seket ewu ra cukup tur ra pantes po meneh seng jagong wonge akeh. Irit yo rokok sak bungkus ditokno terus dilungno kanggo modal jagong\u201d<\/p>\n\n\n\n

Ternyata benar, hampir semua calon kades dan orang-orang kepercayaannya (sabet) melakukan demikian. Mereka selalu bawa rokok dibagikan masyarakat saat ngobrol bareng. Tak hanya itu bahkan walaupun tidak ikut ngobrolpun ketika mereka melintas dan melihat ada segerombolan orang-orang ngobrol sering memberikan rokok lalu pergi. Dan disetiap rumah calon kades juga ternyata selalu disediakan rokok untuk teman ngobrol dan ngopi. <\/p>\n\n\n\n

Pemberian yang hanya berupa rokok tersebut sering diapresiasi masyarakat. Ternyata penilaian masyarakat sangat sederhana, dengan hanya memberikan sebungkus atau sebatang rokok sudah dinilai calon kades tersebut orangnya baik dan loman (suka memberi). Inilah tradisi kebaikan masyarakat di desa, mereka selalu baik sangka, tidak mengenal politik yang rumit-rumit. Untuk itu, bagi kades yang terpilih jangan lupa pada rakyatnya, baik yang mendukung atau yang tidak mendung. Lebih dekatlah pada masyarakat, jangan hanya saat nguber-nguber pungutan pajak saja, jadilah kades yang betul-betul ngayomi masyarakat, berada di garda depan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi garda depan kepentingan pemerintah bahkan pemodal.   
<\/p>\n","post_title":"Rokok Menjadi Penyambung Lidah Para Calon Kepala Desa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-menjadi-penyambung-lidah-para-calon-kepala-desa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-18 09:01:07","post_modified_gmt":"2019-11-18 02:01:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6236","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};