\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n
Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n
\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n
Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. \u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n \u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n \u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n \u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n \u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n \u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":14},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n