Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n
Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n
Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n
Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong> Gulungan tembakau itu dicampur dengan rajangan rempah seperti kemenyan, pala, kayu manis, kapulaga, dan bahkan patut diduga cengkeh sebenarnya juga sudah ditambahkan, meski barangkali pemakaiannya belum terlalu populer. Dalam sejarah lisan masyarakat Kudus, popularitas penggunaan cengkeh sebagai campuran penting meramu produk olahan tembakau setidaknya dicatat sebagai hasil temuan Haji Djamhari dari Kudus. Banyak sumber mengatakan momen penemuan Haji Djamhari ditaksir antara tahun 1870 \u2013 1880. Dengan demikian usia budaya kretek kini sudah melebihi 125 tahun. Usia yang lebih dari cukup untuk memasukkan kretek dalam kategori warisan budaya, mengingat kriteria batasan usia sebuah cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah berusia limapuluh tahun atau lebih.<\/p>\n\n\n\n Apa yang mesti dicatat, tembakau yang digunakan dalam produksi kretek hampir seluruhnya berasal dari wilayah-wilayah di Indonesia. Di Jawa dikenal berbagai jenis tembakau rakyat atau sering disebut juga \u2018tembakau asli\u2019. Oleh kalangan petani, tembakau asli ini sering disebut dengan nama \u2018tembakau Jawa\u2019 atau \u2018tembakau rajangan\u2019. Yang antara lain tembakau Garut, tembakau Temanggung, tembakau Wonosobo, tembakau Lumajang, tembakau Bojonegoro, tembakau Weleri, tembakau Kendal, tembakau Klaten, tembakau Yogyakarta, tembakau Madura, dan lain sebagainya. Sementara di luar Jawa juga menghasilkan tembakau rakyat antara lain daerah Lombok, sebagian Bali, Sumatra Barat dan Sumatera Selatan. Hasilnya digunakan membuat rokok kretek dan rokok putih, juga untuk konsumsi dengan pipa, rokok tradisional maupun untuk dikunyah (mbako susur<\/em>). Jenis tembakau rakyat inilah yang banyak digunakan dalam produksi kretek.<\/p>\n\n\n\n Dari banyaknya ragam jenis tembakau varietas lokal tersebut, jelas menunjukkan adanya local knowledge<\/em> sebagai buah pengalaman panjang tradisi budidaya tembaku di Indonesia. Ambil contoh tembakau Garut, misalnya, di sana dikenal varietas Kecuhejo, Keduomas, Keduhideung, Kedubuntutmeri, Kedujonas, Kedurancing, Palumbon, Gambungcere, dan Nani. Sedang tembakau Temanggung dikenal nama beberapa varietas seperti Gober, Ulir, Sitieng, dan Kenongo. Selain itu, ada satu varietas khusus yang dianggap paling istimewa yaitu tembakau Kemloko \u00a0dan Srintil dari Temanggung Jawa Tengah. Adapun tembakau Wonosobo terdiri varietas Gober, Kenongo, Cengkis, Gembel, Lumut, Dunglong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n Selain sistem pengetahuan lokal tentang budidaya, budaya kretek juga merangkum kreativitas dan ketrampilan lokal sebagai bentuk manifestasi dari local knowledge<\/em> lainnya, yakni seni meramu kretek. Seperti kita tahu, citarasa (taste<\/em>) kretek ditentukan tiga hal, yakni tembakau, dan cengkeh perisa (saus). Di sini tembakau dan cengkehnya sudah merupakan hasil campuran (blending<\/em>) berbagai tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah. Kemudian keduanya diramu dengan perisa dan diproses dengan cara tertentu yang bisa jadi satu pengrajin dengan pengrajin lain berbeda cara agar menghasilkan citarasa yang berbeda dan khas. Sedangkan perisa adalah hasil dari ekstraksi buah-buahan atau berbagai bahan rempah tertentu, selain sebagai penambah rasa juga berfungsi sebagai penambah aroma. <\/p>\n\n\n\n Lebih dari itu, menariknya kekayaan citarasa (taste<\/em>) khas kretek juga dipengaruhi oleh latarbelakang sosiokultural masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Tidak aneh jika setiap wilayah cenderung memiliki selera yang berbeda-beda. Produk kretek dari para pengrajin Jawa Timur seumpama, cenderung memiliki rasa yang berbeda dibandingkan produk pengrajin Jawa Tengah. Inilah yang menjelaskan mengapa pelosok wilayah tertentu seringkali \u201cdikuasi\u201d oleh merek kretek tertentu, dan pelosok wilayah yang lain \u201cdikuasai\u201d merek yang lain. <\/p>\n\n\n\n Unsur estetis lainnya adalah produksi kretek yang dikerjakan dengan tangan (hand made<\/em>). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting<\/em> dan diakhiri dengan mbatil. <\/em>Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Demikian nglinting<\/em> dan mbatil<\/em> serta bentuk kretek non-filter yang khas pun adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal lainnya yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n Jadi, tidak berlebihan sekiranya dikatakan kretek adalah pengejawantahan local genius<\/em> Nusantara. Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%. Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia. PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna. Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM. Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya. Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM. Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan. Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};Baca: KRETEK DALAM PUSARAN BUDAYA BANGSA INDONESIA<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-sejarah-evolusi-budaya-khas-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-20 09:43:00","post_modified_gmt":"2019-03-20 02:43:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5559","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":58},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};