Soal Rokok dan Orang-orang yang Kita Sayangi

Soal Rokok dan Orang-orang yang Kita Sayangi || Pada banyak hal, saya dan Mamak berbeda pandangan. Paling kentara tentu saja karena beliau yang tersayang melarang saya untuk merokok.

“Nek sejam wae ra ngemut abrak ko ngunu kuwi ki tekno yo ngopo?” (Kalau satu jam saja tidak mengulum barang seperti itu, tidak mengapa to?) Kata Mamak pada suatu sore ketika melihat saya merokok sembari menyiram halaman dan aneka kembang di Banteran.

Saya selalu ngeyel bahwa merokok bagi diri saya sendiri tidak berpengaruh terhadap kesehatan, Mamak memandang sebaliknya. Tentu saya maklum terhadap pendapat Mamak mengenai anaknya yang merokok. Mamak mempunyai pendapatnya sendiri bahwa merokok lebih banyak mengakibatkan kerugian, terutama kesehatan bagi tubuh. Oleh karena itu, saya memahami dan memaklumi ketika Mamak khawatir anaknya akan mengalami penurunan kesehatan akibat merokok.

Namun tetap saja meski dalam hal merokok kami bertentangan, Mamak selalu membuatkan teh di pagi hari ketika saya menginap di sana. Dan teh tersebut tentu saja saya seruput sembari merokok di teras, nyamleng.

Pernah beberapa bulan lalu, Mamak mengirimkan pesan lewat aplikasi WhatsApp ;

“Le, cah bagus kesayangane Mamak. Mbok ngrungokne nek dikandhani ki. Leren kuwi le udud. Entuk e opo, gek yo marai ngopo. Mamak njaluk tenan kowe ngrungokne. Mamak ming ra pengen kowe keno opo-opo mergo rokok.” (Nak, cah bagus kesayangan Ibu. Coba dengarkan kalau mendapat nasehat. Berhentilah merokok. Dapat apa dari merokok? Membuat jadi bagaimana dengan merokok? Ibu meminta dengan sangat kamu mau mendengarkan. Ibu cuma tidak ingin kamu mendapatkan efek buruk dari rokok.)

Jujur saja seketika membaca pesan tersebut, saya menjadi lunglai. Semenjak saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Mamak tak pernah meminta apapun dari saya, bahkan jika itu hanya permintaan sepele dan remeh remeh.

Maka ketika Mamak mengirim pesan demikian, meminta berhenti merokok, saya tak bisa langsung seketika juga membalas pesan beliau. Saya hanya membaca pesan tersebut berulang-ulang. Dalam jeda membaca pesan singkat tersebut, saya membuat secangkir kopi, menyulut sebatang rokok, dan mengulang lagi membaca pesan tersebut.

Akhirnya setelah hampir satu jam lamanya, saya menguatkan diri untuk membalas pesan tersebut ;

“Mak, dingapuro nek anakmu siji iki iseh ngeyel tetep ngrokok. Mamak reti dewe, aku ki yo iso nek ming ra ngrokok, tau ra ngrokok nganti tetahunan. Tapi saiki, anakmu lanang iki nyuwun pangertosan Mamak, lilo legawane Mamak, aku iseh ngrokok. Sebab saiki, ming rokok sik iso gawe lerem ati ro pikiranku. Timbang anakmu iki malah katut sik aneh-aneh. Karo nyuwun tambahing donga pangestu, mugo anakmu tetep sehat, tetep kuat.” (Bu, mohon maaf kalau anakmu ini masih tetap saja merokok. Ibu tahu sendiri, aku juga bisa jika harus tidak merokok, pernah tidak merokok sampai bertahun-tahun. Tetapi sekarang, anak laki-lakimu ini meminta pengertian Ibu, ikhlasnya Ibu, untuk tetap masih merokok. Sebab saat ini, hanya rokok yang bisa membantu menenteramkan hati dan menenangkan pikiran. Daripada nanti anakmu terjerumus pada hal-hal yang jelas tidak baik dan merugikan. Sekaligus anakmu meminta tambahan doa dan restu, agar tetap sehat, agar tetap kuat.)

Mamak tak lagi membalas pesan balasan saya tersebut. Saya tahu, dalam hati mungkin Mamak menangis atau bahkan marah karena tahu anaknya tidak menurut, bahkan cenderung membantah. Namun sekaligus juga saya persis mengetahui juga memahami satu hal, bahwa Mamak akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesehatan saya.

Sebisa mungkin saya tidak ingin menyakiti Mamak dengan mengoyak-oyak keyakinannya mengenai rokok yang tidak menyehatkan. Sebisa mungkin saya menghindari perdebatan. Tak mungkin saya menjelaskan panjang lebar mengenai persekongkolan-persekongkolan dalam skala besar dan global untuk mematikan industri rokok, serta strategi untuk mengambil alih paten rokok serta juga nikotin oleh industri-industri farmasi.

Saya biarkan Mamak dengan pengetahuannya tentang rokok, sementara saya juga menggenggam pengetahuan saya mengenai merokok.

Ini bukan tentang mempertahankan suatu teori tentang kebenaran yang kita yakini, tetapi tentang bagaimana sebisa mungkin mempertahankan pola hubungan sehat di tengah perbedaan yang runcing dan tajam.

Harus saya akui bahwa perbedaan pandangan antara saya dan Mamak tentang rokok, begitu curam dan tajam. Saya harus memendam perasaan untuk menjadi seorang yang merasa paling benar dalam meyakini sesuatu, apalagi dihadapan Mamak.

Bagi saya, tidak penting apakah rokok dan merokok tidak berpengaruh terhadap kesehatan, ataukah ada suatu konspirasi besar untuk memonopoli industri rokok dan segala khasiatnya dalam beberapa waktu ke depan. Saya lebih peduli bagaimana menjaga perasaan Mamak agar tidak merasa nasehat kepada anaknya sia-sia belaka.

Salah satu cara saya untuk menjaga perasaan Mamak adalah dengan sebisa mungkin mengurangi konsumsi rokok di hadapan beliau. Ketika berkunjung ke rumah Mamak, di Banteran, sebisa mungkin saya menahan diri dan menahan untuk tidak sering merokok. Sedikit saja menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tidak disukai oleh orang yang kita sayangi, kita hormati, maka kita sudah menempatkan diri pada satu tempat yang lebih baik dan terhormat daripada mereka yang memaksa untuk terlihat paling baik dan benar dengan mengabaikan rasa saling menghormati.

Mamak sekaligus mengajarkan hal tersebut kepada saya. Meski tidak pernah setuju dengan aktifitas saya merokok, Mamak tidak lantas mengabaikan hubungan yang sehat diantara kami. Tetap saja beliau membuatkan saya teh di pagi hari, membelikan atau membuatkan saya makan siang ketika saya mampir di siang hari, dan paling penting, Mamak tetap menyayangi saya.

Bagi saya, merokok bukan sekadar untuk gaya, sekadar untuk bersosial, atau bahkan sekadar ikut-ikutan. Peristiwa merokok, bagi saya hampir menjadi kegiatan ritual pribadi yang bahkan jangan sampai menyakiti orang lain. Seperti berdoa dan beribadah yang selayaknya jangan sampai mengganggu atau bahkan menyakiti orang lain.

Maka, ketika harus sebentar saja menahan diri untuk tidak merokok atau mengurangi intensitas merokok agar tidak menyakiti perasaan Mamak, ibu saya, orang yang saya sayangi dan hormati, sekaligus sangat menyayangi dan peduli terhadap diri saya, maka bukanlah hal yang berat dan harus dirisaukan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Seorang lelaki yang amat mencintai ibunya

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini…