\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6632,"post_author":"878","post_date":"2020-04-16 11:47:04","post_date_gmt":"2020-04-16 04:47:04","post_content":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_title":"Mulanya Obat, Lantas Rokok Distigma Sumber Banyak Penyakit di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mulanya-obat-lantas-rokok-distigma-sumber-banyak-penyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:27:19","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:27:19","post_content_filtered":"\r\n

Rokok di Indonesia pada mulanya adalah obat, tetapi entah kenapa menjadi sumber penyakit pada masa kini. Rezim kesehatan mengubah semuanya.<\/em><\/p>\r\n

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara 'utak-atik gatuk' yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, \"rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?\"

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science<\/em> atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.<\/p>\r\n

Rezim Kesehatan dan Rokok di Indonesia<\/h3>\r\n

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.<\/p>\r\n

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut. Sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.<\/p>\r\n

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok. Dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.<\/p>\r\n

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.<\/p>\r\n

Kata Dokter tentang Rokok<\/h3>\r\n

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di
bolehmerokok.com<\/a>.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6632","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6622,"post_author":"878","post_date":"2020-04-10 11:48:23","post_date_gmt":"2020-04-10 04:48:23","post_content":"\n

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

\nKenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

\nBelum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

\nAkibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

\nIndustri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

\nLantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

\n\"Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.\" (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

\nYa, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

\nAnomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

\nSelanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

\nKetika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

\nAnomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

\nKini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

\nDalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

\nIni pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.<\/p>\n","post_title":"Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mampukah-industri-kretek-melalui-badai-krisis-akibat-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-10 11:49:15","post_modified_gmt":"2020-04-10 04:49:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};