\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5614,"post_author":"877","post_date":"2019-04-08 10:38:58","post_date_gmt":"2019-04-08 03:38:58","post_content":"\n

Salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang biasa orang NU kenal adalah kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes. Kitab yang masih dikaji beberapa pesantren di Jawa ini sebenarnya berjudul lengkap:<\/p>\n\n\n\n

(<\/strong> \u0634\u0631\u062d \u0645\u0646\u0638\u0648\u0645\u0629 \u0625\u0631\u0634\u0627\u062f \u0627\u0644\u0625\u062e\u0648\u0627\u0646 \u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0634\u0631\u0628 \u0627\u0644\u0642\u0647\u0648\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

\u201cSyarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u201d, t<\/em>erjemahannya adalah penjabaran terhadap karya hafalan berjudul \u2018Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Bentuk kitab ini adalah syarh (penjabaran) terhadap karya sebelumnya yang berbentuk hafalan dengan judul Irsyadul Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan (Tuntunan bagi segenap saudara untuk menjelaskan minum kopi dan mengisap rokok).<\/em> Karya sebelumnya hanya berupa mandzumah<\/em> (hafalan dalam bentuk bait-bait puitik), kemudian dijabarkan melalui syarh<\/em> (penjelasan). Baik mandzumah maupun syarh tersebut ditulis oleh sosok yang sama yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada awalnya Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan agar mudah dihafal oleh khalayak. Setelah itu ia merasa bahwa mandzumah tersebut butuh penjabaran agar lebih bisa dipahami khalayak. Maka lahirlah karya berupa syarh tersebut yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan kitab Irsyadul Ikhwan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri Jawa Timur. Jampes kini merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari desa Putih kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ayah Syeikh Ihsan, KH Muhammad Dahlan, adalah pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Jampes, dirintis sejak 1886 M. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M dengan nama Bahrul Ulum tapi biasa dipanggil Bakri, sewaktu kecil dikenal bandel namun memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia juga dikenal cepat menyerap ilmu pengetahuan sehingga masa pembelajaannya di sebuah pesantren tidak pernah berlangsung lama. Banyak pesantren telah ia singgahi termasuk pesantren di Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.<\/p>\n\n\n\n

Setelah melakukan ibadah haji pada tahun 1926 nama Bakri diganti menjadi Ihsan. Tahun 1928 ayah Syeikh Ihsan meninggal, namun baru pada tahun 1932 ia baru mau menjadi pengasuh pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya yang bernama KH Cholil. Saat ini Pesantren Jampes masih eksis dengan nama Al Ihsan. Syeikh Ihsan meninggal pada tahun 1952 kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KH Muhammad bin Ihsan. Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama Nusantara yang giat menghasilkan karya tulis. Ini tidak mengherankan karena disamping kecerdasannya, ia juga terkenal sangat gemar membaca tidak hanya literatur kepesantrenan namun juga literatur yang bersifat umum. <\/p>\n\n\n\n

Apabila para ulama pesantren di Jawa biasa disebut sebagai kyai maka Syeikh Ihsan memiliki julukan berbeda. Khalayak menjulukinya syeikh karena kualitas keilmuannya serta kemampuannya menulis karya yang mampu diterima oleh publik Muslim dunia. Dalam Bahasa Arab nama Syeikh Ihsan dikenal dengan tambahan julukan Al Jamfasi Al Kadiri, artinya yang berasal dari Jampes Kediri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 MANFAAT ROKOK BAGI KESEHATAN ANDA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan memiliki penguasaan atas beberapa cabang ilmu yang berbeda. Inilah yang memungkinkan ia untuk menulis karya dalam bidang yang berbeda. Di antara karya-karta tersebut kitab Irsyadul Ikhwan bukanlah magnum opus<\/em> dari Syeikh Ihsan. Namun dalam khazanah karya ulama Nusantara hingga kini kitab ini masih dianggap sebagai masterpiece. <\/em>Paling tidak sampai saat ini belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kekuatan dari kitab ini.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan sejatinya adalah karya yang terinspirasi dari risalah Tadzkiratul Ikhwan fi Bayanil Qahwati wad Dukhan<\/em> (pengingat kepada para saudara dalam menerangkan kopi dan rokok) karya KH Dahlan Semarang menantu dari KH Soleh Darat. KH Dahlan Semarang adalah guru Syeikh Ihsan di Pesantren Darat, mengasuh pesantren ini sepeninggal KH Soleh Darat di tahun 1903. Ia sebenarnya bukan asli putra Semarang namun berasal dari Tremas Pacitan Jawa Timur. Konon ia adalah adik Syeikh Mahfudz Tremas yang bersamanya menuntut ilmu di Mekkah. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Sebagai seorang murid, Syeikh Ihsan merasa bahwa karya gurunya tentang rokok, Risalah Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, perlu untuk dipahami oleh khalayak. Untuk itulah ia mengarang bait-bait Irsyadul Ikhwan<\/em> agar memiliki sifat estetik dan lebih mudah dihafal. Lebih lanjut ia membuat syarh (penjabaran) atas bait-bait tersebut menjadi sebuah kitab yang bisa didapatkan hingga saat ini tersebut. Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Salah satu keturunan dari Syeikh Ihsan pun tidak bisa menjelaskan kapan karya itu disusun. Namun bisa diduga bahwa kegiatan kepenulisan Syeikh Ihsan secara intensif terjadi setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya. <\/p>\n\n\n\n

Terkait rokok, masih ada satu lagi karya KH Dahlan yang membahas perkara ini. Karya ini berjudul Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam<\/em> (kilasan pemahaman tentang perkara seputar rokok dalam hal hukum). Naskah kitab ini masih berupa manuskrip dan dikoleksi oleh perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia. Berbeda dengan Tadzkiratul Ikhwan<\/em> yang membahas kopi dan rokok, karya yang satu ini khusus membahas tentang rokok saja. Keberadaan karya ini pun ternyata awalnya tidak diketahui oleh keluarga KH Dahlan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman pertama manuskrip Nazhatul Ifham fi ma Ya\u2019tarid Dukhan minal Ahkam karya KH Dahlan, koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Saudi Arabia.
<\/h4>\n\n\n\n

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham<\/em> di atas tertulis bahwa sang pengarang adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani. At Tarmasi berarti orang yang berasal dari Termas sedang Al Fajitani berari orang yang berasal dari Pacitan. KH Dahlan memang berasal dari Termas yang kini merupakan bagian dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Setelah KH Dahlan tinggal di Semarang menjadi menantu KH Soleh Darat dan mengasuh Pesantren Darat, namanya lebih dikenal sebagai Dahlan As Samarani atau Dahlan orang dari Semarang. Jika manuskrip menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani, mungkin saja karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum ia pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang. Faktanya karya ini tidak diketahui oleh keluarga dari KH Dahlan di tanah air malah ditemukan dan tersimpan di Saudi Arabia. <\/p>\n\n\n\n

Dapat dipastikan bahwa dua judul karya KH Dahlan mengenai rokok tersebut memang berasal dari dua kitab yang berbeda. Buktinya adalah saat Syeikh Ihsan menukil (mengambil) sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dalam karyanya. Nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi. Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham<\/em> hasilnya adalah nihil. Kesimpulannya adalah kitab Tadzkiratul Ikhwan<\/em> dan Nazhatul Ifham<\/em> adalah dua kitab berbeda. Tadzkiratul Ikhwan<\/em> membahas tentang kopi dan rokok sedang Nazhatul Ifham<\/em> khusus membahas tentang rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kekayaan karya KH. Dahlan tentang kopi maupun rokok disadari benar oleh salah satu muridnya di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Pada akhirnya Syeikh Ihsan mengarang risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan tentang hal yang sama. <\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan sendiri belum sepenuhnya dikenal oleh khalayak pesantren nusantara maupun NU. Beberapa pesantren memang menjadikannya sebagai kitab yang diajarkan, namun belum menyentuh pesantren-pesantren secara dominan. Para kyai, baik perokok maupun tidak, ternyata tidak semuanya mengoleksi bahkan mengetahui kitab tersebut. Satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009. <\/p>\n\n\n\n

\"buku-kitab-kopi-small\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Terjemahan kitab Irsyadul Ikhwan yang diberi judul Kitab Kopi Dan Rokok, terbitan LKiS Yogyakarta tahun 2009.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kitab ini juga tidak muncul dalam bahtsul masa\u2019il<\/em> yang menyentuh isu rokok pada Muktamar NU 1927. Mungkin saja karena pada waktu itu kitab ini belum ditulis. Pada bahtsul masa\u2019il<\/em> kyai-kyai NU di Surabaya tahun 2010 pun kitab ini tidak dijadikan sebagai salah satu referensi sumber \u2018ibarah<\/em> (redaksi) penguat. Sebagaimana telah diketahui, status mu\u2019tabar<\/em> atau tidak dalam tradisi bahtsul masa\u2019il NU memang mengandung ambiguitas. Namun KH Sya\u2019roni Ahmadi Kudus yang mengoleksi kopian kitab ini menyatakan bahwa kitab ini berstatus mu\u2019tabar<\/em>. Status mu\u2019tabar <\/em>ini juga dikuatkan pendapat dari KH Syaifudin Lutfi yang juga merupakan kyai NU dari Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Kitab Irsyadul Ikhwan<\/em> memuat bait-bait yang ditulis dalam aturan bahr rajaz<\/em>. Bahr<\/em> adalah rumus-rumus penulisan bait qasidah yang merupakan karya puitik klasik Arab. Jenis bahr<\/em> pun bermacam macam yang aturannya tertuang dalam ilmu arudl<\/em> atau dalam teori bahasa-sastra disebut ilmu prosodi. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai pembuka kitab Syeikh Ihsan menyebutkan pujian kepada Allah yang menjadikan perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat. Ungkapan ini bermakana sangat dalam karena sejak awal Syeikh Ihsan telah memberi landasan pemahaman bahwa pembahasan rokok memang melahirkan ikhtilaf antar banyak ulama. Ikhtilaf ini pula yang selanjutnya dipaparkan apa adanya dalam kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Ada empat bab yang termuat dalam kitab, pertama menerangkan seputar permasalahan kopi dan rokok, kedua menerangkan pendapat-pendapat yang mengharamkan rokok, ketiga menerangkan pendapat-pendapat yang menghalalkan rokok sekaligus menangkis pendapat-pendapat yang mengharamkan dan terakhir adalah hal-hal seputar rokok dala hubungannya dengan hukum fikih secara umum.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan kopi hanya cukup dibahas pada satu bab saja mengingat ikhtilaf pada status kopi ini tidak begitu menguat. Kebanyakan ulama memutuskan bahwah status kopi adalah mubah. Setelah menunjukkan pendapat yang menghalalkan rokok, Syaikh Ihsan memaparkan bagaimana rokok dipandang dari sudut pandang kasus-kasus fikih yang lain.<\/p>\n\n\n\n

Karakteristik penulisan kitab semacam ini senada dengan metode pembahasan fikih ala NU dan pesantren. Segala pendapat dipaparkan untuk memberi gambaran cakrawala yang luas kepada pembaca. Meskipun pada akhirnya Syeikh Ihsan yang seorang penikmat rokok dan kopi itu meyakini kehalalan rokok namun pendapat yang mengharamkan tidak ditutup-tutupi. Ia pun memaparkan nama-nama ulama yang mengharamkan rokok tersebut dengan sikap karya tulis yang penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n

Bab kedua khusus membahas tentang pendapat yang mengharamkan rokok. Ada banyak nama ulama di sini yang dipaparkan beserta argumentasi yang membangun pandangan mereka. Pada akhir bab ini ada sedikit kilasan atas argumentasi secara umum yang membangun keputusan rokok oleh para ulama. <\/p>\n\n\n\n

Pada bab ketiga nama yang ditulis pertama sebagai ulama mazhab yang menghalalkan rokok adalah Syeikh Abdul Ghani An Nablusi (- 1143 H), ulama mazhab Hanafi yang memiliki risalah berjudul Assulhu baynal Ikhwan fi Hukmi Ibahati Syurbid Dukhan, yang sebagian isinya dicuplik oleh Syeikh Ihsan. An Nablusi menyatakan bahwa banyak orang yang bodoh keliru dalam menyebut bahwa tembakau itu merugikan badan dan akal. Sebaliknya menurut An Nablusi sebaliknya tuduhan itu salah sehingga tembakau mesti kembali kepada hukum asalnya yaitu mubah. Bagian karya An Nablusi yang dicuplik Syeikh Ihsan dalam kitabnya merupakan bait-bait syair dengan rima sastra bahr basith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

\"\"\/<\/figure>\n\n\n\n

Halaman akhir dari karya An Nablusi yang baitnya dinukil di dalam kitab Irsyadul Ikhwan karyaSyeikh Ihsan Jampes
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dijelaskan nama-nama lain yang mendukung kebolehan rokok yaitu As Syibramalisi (- 1087 H), Al Halabi (- 1044 H), Al Barmawi (- 1106 H) dan Al Babili (1077 H). Nama-nama ulama yang ditulis Syeikh Ihsan sebagi pendukung kehalalan rokok tersebut kesemuanya merupakan ulama Mesir yang bermazhab Syafi\u2019i. Menurut Al Babili rokok itu mengandung keharaman namun tidak bersifat li dzatihi<\/em> (inheren) melainkan karena faktor eksternal. Maksud faktor eksternal di sini adalah jika orang tahu bahwa rokok itu akan mengakibatkan bahaya baginya, saat itulah keharaman akan timbul. Secara inheren rokok itu tidak bersifat memabukkan dan tidak termasuk barang yang najis. <\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan kemudian menjawab persoalan seputar rokok dianggap yang najis karena mengalami proses penyiraman khamr<\/em> (arak). Ia menyatakan bahwa keharaman itu berarti dari kenajisan yang datang dari luar. Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menganggap bahwa asap dari perkara yang najis pun dihukumi tetap suci. Untuk itu rokok dihukumi haram untuk orang tertentu yang dapat kena bahayanya sedangkan menyatakan bahwa rokok itu berbahaya secara mutlak adalah hal yang keliru. Malah rokok sendiri menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak.<\/p>\n\n\n\n

Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. <\/p>\n\n\n\n

Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. <\/p>\n\n\n\n

Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat karahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa karahah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.\t<\/p>\n\n\n\n

Bab keempat berisi tentang hukum lain yang akan bersangkut paut dengan urusan rokok. Bab ini ditulis dengan asumsi bahwa rokok adalah hal yang boleh namun para perokok juga mesti paham dengan hukum-hukum lain sepitar rokok. Hukum-hukum lain ini adalah semisal makruh meletakkan rokok sembarangan yang bisa merusak sampul penjilid kitab. Apabila menaruh sembarangan yang bisa merusak Quran maka akan menjadi haram.Merokok juga makruh dilakukan dalam majelis pembacaan Quran. Merokok juga perkara yang membatalkan puasa. Merokok yang berakibat mengotori masjid juga termasuk perbuatan haram. <\/p>\n\n\n\n

Dalam persoalan rokok kitab Syeikh Ihsan masih bisa ditemukan karyanya namun masih tercetak secara terbatas.
<\/p>\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-pun-menulis-kitab-untuk-para-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-08 10:39:06","post_modified_gmt":"2019-04-08 03:39:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5614","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5605,"post_author":"878","post_date":"2019-04-05 10:25:02","post_date_gmt":"2019-04-05 03:25:02","post_content":"\n

Sepekan belakangan, media massa dan media sosial ramai pemberitaan perihal peraturan yang diterapkan terhadap para pengendara yang merokok. Dalam peraturan tersebut, para pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara akan dihukum berupa denda sebesar Rp750 ribu. Peraturan ini mengacu pada Undang-Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Pada tahun ini, beberapa kota sudah menerapkan undang-undang tersebut dalam kebijakan wilayah mereka, berjarak sekira 10 tahun dari kali pertama undang-undang itu dibuat. Sebuah jeda yang cukup panjang hingga undang-undang tersebut benar-benar diterapkan. Ke depannya tentu peraturan ini akan diberlakukan menyeluruh secara nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kira-kira satu tahun lalu, saya pernah menulis di situsweb ini terkait kasus salah seorang mahasiswa di Semarang yang mengalami luka cukup parah pada matanya karena terkena bara rokok pengendara lain. Ia mesti dibawa ke rumah sakit karena bara api rokok pengendara lain itu membakar matanya.
<\/p>\n\n\n\n

Baca: <\/strong>Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kasus semacam itu terjadi. Bara api dari rokok pengendara yang tak sengaja terbang tertiup angin mengganggu pengendara lain. Mengganggu penglihatan, mengenai pakaian kadang sampai membolongi beberapa bagian di pakaian, hingga adakalanya berakibat cukup fatal bagi pengendara lain. Seperti kasus yang terjadi setahun lalu di Semarang.<\/p>\n\n\n\n

Selain bara api dari rokok pengendara, abu rokok yang beterbangan tertiup angin juga sangat mengganggu pengendara lain. Dan ini yang paling sering terjadi. Bukan sekali dua mata saya kelilipan abu rokok dari pengendara lain saat saya berkendara. Jika sudah begitu saya akan memperlambat laju sepeda motor saya kemudian berhenti, lalu mengecek keadaan mata saya.<\/p>\n\n\n\n

Ini memang sepele, sekadar abu rokok, namun keadaan seperti itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Maka secara pribadi saya sangat menyetujui peraturan hukuman berupa denda bagi para pengendara yang merokom saat berkendara diterapkan. Itu sejalan dengan kampanye 'Perokok Santun' yang terus dikampanyekan Komite Nasional Pelestarian Kretek dan Komunitas Kretek sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa kritik terkait penerapan aturan ini tentu saja. Yang pertama, nominal denda yang ditetapkan. Saya pikir, Rp750 ribu untuk hukuman denda tidak aplikatif pada penerapannya. Nominal yang terlalu besar tentu saja akan membikin rumit penerapan langsung di lapangan. Ia akan menyita waktu, dan belum tentu pengendara yang kedapatan merokok saat berkendara membawa uang kontan sebanyak itu. Alhasil, transaksi dan negosiasi akan terjadi dan rawan menimbulkan praktik kongkalikong sebagaimana yang lazim terjadi saat ada operasi tilang di jalan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika misal nominal denda ada pada angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, saya kira ini malah akan lebih aplikatif dalam penerapannya. Dan peraturan bisa benar-benar diterapkan. Contoh nyata peraturan sekadar menjadi ancaman adalah peraturan denda terhadap pembuang sampah sembarangan yang dendanya hingga berjuta-juta. Maka peraturan itu sekadar peraturan semata, tidak diterapkan dan diremehkan begitu saja. Banyak orang masih merasa aman buang sampah sembarangan.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, bagaimana mekanisme uang itu dikumpulkan. Tentu saja undang-undang sudah mengatur siapa yang akan menyimpan uang denda yang diterima dari para perokok yang merokok saat berkendara, namun sebagaimana biasa, lagi-lagi pengawasan ketat mesti dilakukan agar dana tidak disalahgunakan. <\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, penggunaan dana hasil denda. Proses penggunaannya harus benar-benar dikawal sebaik mungkin agar tepat sasaran. Sebaiknya dana itu mulanya digunakan untuk menyosialisasikan peraturan ini di seluruh negeri. Agar semua pihak tahu dan peraturan ini benar-benar bisa diterapkan hingga akhirnya para perokok tertib untuk tidak merokom saat berkendara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jadilah Perokok yang Santun<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya ingin mengingatkan sekali lagi--meskipun perokok selalu mendapat diskriminasi terutama dari peraturan ruang merokok dan kampanye negatif yang dialamatkan kepada rokok dan para perokok oleh mereka yang anti-rokok-- marilah kita menjadi perokok yang santun. Sebagai bentuk toleransi kita kepada mereka yang tidak merokok, dan sebagai wujud warga negara baik yang mentaati peraturan.<\/p>\n\n\n\n

Empat ciri utama perokok santun: Tidak merokok saat berkendara; tidak merokok di area dilarang merokok; tidak memberikan rokok kepada anak-anak; dan tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, saya kira peraturan ini sebaiknya tidak hanya diterapkan kepada pengendara yang merokok saja, tetapi juga kepada pengendara yang membuang sampah sembarangan dan pengendara yang meludah sembarangan. Keduanya juga sangat mengganggu pengendara lain dan bisa berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n","post_title":"Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"denda-bagi-mereka-yang-merokok-saat-berkendara-sudah-tepatkah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-05 10:25:10","post_modified_gmt":"2019-04-05 03:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5605","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5601,"post_author":"878","post_date":"2019-04-04 06:00:09","post_date_gmt":"2019-04-03 23:00:09","post_content":"\n

Mendekati usia 20 tahun, saya baru benar-benar memutuskan untuk merokok. Jika melihat peraturan terkait diperbolehkannya seseorang merokok, saya terhitung tertib, karena dalam peraturan usia 18 tahun seseorang baru diperbolehkan merokok. Semasa usia SMP dan SMA, sekali dua kali saya memang pernah mencoba merokok, tetapi sekadar menuntaskan rasa penasaran saja.<\/p>\n\n\n\n

Penyebab utama saya memutuskan merokok adalah hobi mendaki gunung yang saya geluti. Sebelum saya memutuskan merokok dan kerap pergi mendaki gunung, saya melihat rekan-rekan mendaki saya begitu nikmat merokok saat rehat dalam perjalanan atau ketika malam tiba dan kami sudah berada di lokasi bermalam pada salah satu pos pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada Februari 2006, saat pendakian lintas Gunung Lompobattang-Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, saya memutuskan menjadi perokok aktif. <\/strong>Saya memulai menjadi perokok dari yang paling mendasar, merokok tingwe (linting sendiri), msngambil selembar kertas linting, mencuplik sejumput tembakau rajangan lalu meletakkannya di atas kertas linting, kemudian menabur potongan bunga cengkeh kering ke atasnya lantas menggulung kertas linting. Beberapa kali saya gagal melinting hingga akhirnya rekan mendaki saya membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Ia memang yang membawa semua itu. Ale namanya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tiap kali hendak merokok sepanjang pendakian selama enam hari lima malam, Ale berbaik hati membuatkan rokok kretek tingwe untuk saya. Saya ingat betul momen itu. Momen pendakian dan kali pertama saya memutuskan menjadi perokok aktif. Merek tembakau yang saya isap ketika itu, Mars Brand, produk tembakau rajangan yang sudah dikemas dalam kemasan berwarna kombinasi oranye dan hitam, yang tiap kemasannya memiliki takaran tembakau seberat 45 gram.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok, Asupan Jiwa yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau Mars Brand diproduksi oleh PT. Bentoel, perusahaan rokok yang berpusat di Kabupaten Malang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki British American Tobacco. Saya tak tahu kapan produk Mars Brand kali pertama diluncurkan. Saya juga tak paham tembakau jenis apa dan dari mana tembakau yang digunakan untuk produk tersebut. Yang jelas, kali pertama saya mencicipnya, saya merasa cukup cocok. Apalagi ketika itu saya sebagai perokok pemula.<\/p>\n\n\n\n

Aromanya khas, gurih dan menyegarkan. Ketika diisap, ia cukup lembut, tidak menyedak di tenggorokan. Kelak saya tahu, keberadaan bunga cengkeh kering dalam lintingan yang membikin produk kretek semakin lembut diisap.<\/h5>\n\n\n\n

<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selanjutnya, sehari-hari saya memang tidak rutin mengisap tembakau Mars Brand. Saya memilih produk rokok kretek Sigaret Kretek Mesin (SKM) reguler yang tak perlu repot melinting lagi ketika hendak mengisapnya. Namun, ketika mendaki gunung, saya pasti membawa tembakau Mars Brand sebagai selingan merokok reguler. Namun, selanjutnya saya jarang mencampur cengkeh kering dalam lintingan yang saya buat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya, saya menduga produk tembakau Mars Brand menyasar pasar para perokok usia di atas 40 tahun. Nyatanya dugaan saya salah. Saya kerap melihat pemuda menenteng produk Mars Brand dan asyik mengisapnya.<\/strong> Produk ini juga mudah didapat di gerai-gerai Circle K dulu. Kini itu sudah agak sulit karena penyalahgunaan kertas linting bermerek sama dengan produk tembakau, Mars Brand. Kertas itu kerap dipakai untuk melinting ganja. Imbasnya, orang takut membeli produk tembakau Mars Brand karena khawatir dicurigai sebagai pemakai ganja.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, saya membeli produk tembakau Mars Brand, satu pak berisi 45 gram tembakau kini seharga Rp12 ribu. Kertas linting bermerek Mars Brand, dijual terpisah, harganya juga Rp12 ribu satu kotak. Saya membeli sebelum berangkat menuju lokasi saya bertugas sebagai koordinator program Sokola Kaki Gunung yang lokasi programnya berada di lereng selatan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Saya pikir, bernostalgia bersama tembakau Mars Brand di kaki gunung cukup menarik, kemudian menuliskannya untuk situsweb ini.<\/p>\n","post_title":"Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengisap-tembakau-mars-brand-di-kaki-gunung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-03 22:42:42","post_modified_gmt":"2019-04-03 15:42:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5601","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5594,"post_author":"851","post_date":"2019-04-03 10:20:21","post_date_gmt":"2019-04-03 03:20:21","post_content":"\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};